Menuju Raja Ampat Menggunakan Kapal Pelni

Perjalanan berlibur naik kapal laut sesungguhnya bukanlah hal baru untuk Saya. Terlebih dulu Saya pernah berwisata ke Belitung, Batam, serta Makassar memakai kapal laut. Trauma naik pesawat udaralah yang melatarbelakangi Saya memakai kapal laut.

Pada 1998, Saya pernah alami peristiwa yang membuatnya trauma. Saat itu pesawat yang Saya tumpangi dengan rute Makassar – Bandung alami turbulensi. Kondisi didalam pesawat kacau.

” Saya pulang sendiri naik pesawat bawa bayi usia dua bulan. Dahulu transit, dari Ujung Pandang ke Bandung itu mesti transit 2 x di Bali serta Surabaya. Dari Ujung Pandang ke Bali aman, namun dari Surabaya-Bandung itu ada turbulensi. Buat saya itu turbulensi begitu hebat. Pesawat telah terbang sepanjang 15 menit, ” narasi Saya.

Menuju Raja Ampat Menggunakan Kapal Pelni CIREMAI  20

Waktu itu Saya tidak tengah menggunakan sabuk pengaman. Ketika peristiwa itu tidak ada sinyal tanda turbulensi. Mendadak pesawat yang Saya tumpangi anjlok.

” Ada penumpang yang kepalanya terkena kabin serta jatuh. Hingga ada yang teriak takbir di pesawat, ” lebih perempuan yang pernah bekerja sebagai perawat itu.

Saat ini, Saya ikhlas kelelahan naik kapal laut dibanding alami desakan dari trauma naik pesawat. Waktu menuju Sorong, Saya mesti meniti lima hari perjalanan. Walau sebenarnya, bila pergi ke Sorong memakai pesawat dari Jakarta cuma memerlukan saat paling cepat tujuh jam penerbangan.

Sebelumnya tiba di Sorong, KM Ciremai yang Saya tumpangi harus sandar di Makassar, Sulawesi Selatan serta Bau-Bau, Sulawesi Tenggara. Panorama macam penumpang, situasi kapal, serta lautan temani hari-hari Saya. KM Ciremai tiba di Makassar pada Rabu (26/10/2016) serta transit sekitaran empat jam. Saya harus ikuti jadwal kapal tanpa ada pengecualian. Waktu menanti, Saya pergi berkeliling Makassar serta singgah ke Pantai Losari.

” Lalu dari Makassar, sandar di Bau-Bau. Bila tidak naik kapal, saya fikir untuk apa saya ke Bau-Bau. Namun kan saya jadi tahu Kota Bau-Bau seperti apa, dan memang harga tiket keberangkatan juga tidak mahal. Meskipun cuma sekitaran dua jam di Bau-Bau, saya nikmati apa yang ada di Bau-Bau seperti kulineran serta kenalan sama orang Bau-Bau, ” katanya.

Kamis (27/10/2016) sore, kapal kembali membelah laut. Saya terlelap serta tiba esok harinya di Sorong. Saya lalu bermalam di Sorong sebelumnya berjumpa dengan rombongan yang lain untuk naik ke KM Tatamailau sesuai dengan jadwal kapal yang telah ditentukan.

Lima hari perjalanan naik kapal laut bukanlah hal yang gampang. Itu yang disadari oleh Saya. Mental serta fisiknya diuji dalam perjalanan ini. Rasa takut sering menyelimuti Saya sepanjang perjalanan.

” Takut sih tentu ada. Ngatasin rasa takutnya? Di kapal itu takutnya sama orang ya. Bila naik pesawat, kan takut alam dari bawah sadar. Takutnya kejahatan namun aman alhamdulillah. Saya yakin bila orang baik tentu ketemu orang baik, ” terang perempuan berjilbab tu.

Walau sekian, Saya juga tetaplah alami pelecehan diatas kapal. Saya pernah dipandangi serta disuruhi nomor telepon oleh lelaki di kapal. Walau sebenarnya, Saya telah menghadapi dengan memakai mukena serta penutup muka.

Posted by Titik Haryanti

Leave a Reply